
Pekanbaru, 4 Mei 2026 – Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Suska Riau kembali menggelar praktik lapangan melalui layanan konseling individu dengan pendekatan art therapy. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 4 Mei 2026, pukul 08.00–10.00 WIB, bertempat di SMPIT As-Sajadah.
Pelaksanaan konseling dilakukan di dalam kelas yang dibagi menjadi tiga ruangan. Sebanyak 17 siswa mengikuti kegiatan ini. Setiap siswa mendapatkan layanan konseling individu secara langsung dengan satu mahasiswa sebagai konselor. Pendekatan ini memungkinkan proses konseling berjalan lebih fokus dan memberikan perhatian penuh pada kebutuhan masing-masing siswa.
Kegiatan diawali oleh pembawa acara yang membuka rangkaian acara secara singkat dan tertib. Sambutan pertama disampaikan oleh Kepala SMPIT As-Sajadah, Arma Noviyanti, M.Pd., Gr. Dalam sambutannya, ia menyambut baik kegiatan ini dan menegaskan bahwa pendekatan konseling berbasis seni dapat membantu siswa lebih terbuka dalam mengungkapkan perasaan serta mengatasi permasalahan yang dihadapi.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala Laboratorium Bimbingan dan Konseling FTK, Raja Rahima Munawarah Raja Ahmad, S.Pd.I., M.Pd., Kons. Beliau menekankan pentingnya praktik langsung bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan konseling, khususnya dalam penggunaan teknik kreatif seperti art therapy.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Sekretaris Program Studi BKPI, Hasgimianti, M.Pd., Kons., Dosen Pengampu Mata Kuliah Teknik Laboratorium Konseling, Nur’aini Safitri, S.Pd.I., M.Pd., Kons., serta Dosen BKPI, Dr. Muslim Afandi, M.Pd. Hadir pula majelis guru SMPIT As-Sajadah yang memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan.
Dalam sesi konseling, mahasiswa menggunakan teknik art therapy sebagai media untuk membantu siswa mengekspresikan emosi, pikiran, dan pengalaman melalui gambar. Siswa diarahkan untuk menggambar sesuai dengan kondisi perasaan mereka, kemudian didampingi oleh konselor dalam proses refleksi dan pemaknaan terhadap hasil karya tersebut. Pendekatan ini menciptakan suasana konseling yang lebih nyaman dan tidak menekan.
Beberapa siswa memberikan respons positif terhadap kegiatan ini. Mereka merasa lebih mudah menyampaikan perasaan melalui media gambar dibandingkan dengan komunikasi verbal. Siswa juga mengaku merasa lebih tenang, dipahami, dan terbantu dalam menemukan cara menghadapi masalah yang dialami.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa, tetapi juga menjadi wadah pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa dalam menerapkan teori dan teknik konseling secara langsung di lapangan. Melalui praktik ini, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kompetensi profesional sebagai calon konselor yang adaptif dan kreatif.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam meningkatkan kualitas layanan bimbingan dan konseling. Pendekatan inovatif seperti art therapy diharapkan dapat terus dikembangkan untuk menjawab kebutuhan peserta didik di era saat ini.

